Pageviews last month

Saturday, August 9, 2014

Fenomena Ibu Bekerja

Fenomena ibu bekerja sebenarnya bukan lagi hal baru. Saya berkata demikian karena saya dibesarkan oleh seorang ibu yang bekerja sebagai seorang guru. Orang tua saya tidak termasuk orang yang mampu menghasilkan uang berlebih untuk menyewa seorang asisten rumah tangga atau bahkan pengasuh. Jadilah waktu kecil saya dititipkan kepada nenek atau saudara dari orang tua saya. Banyak yang bilang, karena orang tua saya "hanya" seorang  guru maka waktu mereka masih cukup banyak untuk memperhatikan tumbuh kembang saya dan adik saya setiap harinya.

Mungkin yang mereka sampaikan benar. Karena jujur saya tidak merasa kekurangan kasih sayang dari kedua orang tua saya. Beruntunglah saya memiliki masa kecil dengan kehidupan yang sederhana namun manis.

Saya beruntung karena orang tua saya "hanya" seorang guru. Saya bilang "hanya" bukan berarti saya meremehkan posisi guru. Karena begitulah kata-kata yang  terlontar dari mereka saat saya membanggakan orangtua saya. Itu karena saat saya kecil tugas seorang guru tidak seberat seorang wanita kantoran yang menghabiskan waktu seharian dikantor. Sesuai dengan gaji yang mereka terima.

Bagaimana dengan fenomena ibu bekerja yang terjadi saat ini?

Banyak kejadian yang kita dengar dan lihat di televisi mengenai anak-anak korban penculikan, pelecehan seksual bahkan korban mutilasi. *Naudzubillah min dzalik. Lalu apakah mereka juga korban dari fenomena ibu yang bekerja? Jawaban saya : BISA JADI.

Seberapa percaya anda kepada asisten rumahtangga anda atau pengasuh anak anda?
Seberapa kenal anda dengan mereka sehingga anda mempercayakan kehidupan anak anda, buah cinta kasih anda ?
Berapa lama anda sudah mengenal asisten anda?

Bisa jadi orang yang baru anda kenal menjadi seorang yang merusak masa depan anak anda. Rusaknya masa depan mereka sama saja dengan merusak masa depan anda kan?
Saya menulis tulisan ini bukan berarti saya tidak PRO terhadap fenomena ibu bekerja.
Seorang ibu masih memiliki hak untuk menjalankan Passion mereka dalam bekerja dan berpenghasilan. Namun alangkah indah nya jika mendapat penghasilan sambil melihat tumbuh kembang sikecil.

Saya merasa sangat miris dengan pengalaman rekan kerja saya yang harus 8 jam dikantor (bahkan seringkali lebih) sementara ada 2 orang anak yang membutuhkan belaian ibu nya. Pagi berangkat saat sikecil belum bangun, dan pulang saat mereka sudah terlelap. Bahkan sang ibu rela meninggalkan bayinya yang masih membutuhkan ASI yang rutin. Berdalih kebutuhan hidup yang makin tinggi maka sang ibu terpaksa menahan rindu untuk bertemu si buah hati. Belum lagi jika si kecil yang sudah bersekolah sementara butuh perhatian lebih dari ibunda nya dari sisi penyampaian ilmu dan materi. Hal ini mungkin bisa di dapatkan dari guru Les Private atau tempat kursus. Tapi saya rasa itu saja tidak cukup. Ada sisi psikologis anak yang menginginkan bimbingan tersebut berasal dari orang tua mereka. *based on my own experience

Saya mungkin nantinya memilih untuk berpenghasilan dari rumah saja karena saya tau untuk jadi Working Mom (Ibu Bekerja) bukan lah sesuatu yang tega untuk saya lakukan. Banyak fasilitas yang dapat digunakan saat ini untuk bisa berpenghasilan dari rumah. Terima kasih untuk para ibu yang telah dengan rela meninggalkan cita-citanya bekerja di perusahaan impiannya demi membesarkan para penerus bangsa yang jenius.

Saya pernah membaca bahwa di negara maju Jepang, ada yang nama nya "Kyoku Mama" (Ibu Pendidikan). Faktanya para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja. Mereka benar-benar bertugas menjadi pendidik dan pengurus anak-anak mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga terlelap dimalam hari. Semua ada dalam didikan sang ibu.
Para Kyoku Mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka. Jangan salah lho... Rata-rata mereka justri lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier akan tetapi untuk "mendidik anak" karena itulah karier tertinggi bagi seorang wanita.

Maka tidak salah jika orang-orang Jepang disiplin, etos kerja tinggi, menjaga kebersihan karena it semua hasil didikan dari "Kyoku mama". Bisa dibilang juga perekonomian Jepang ditopang oleh Kyoku mama. Fungsi sekolah hanyalah untuk transfer ilmu saja.

Hmmm.. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para ibu yang masih galau memilih antara karir atau perkembangan putra putri penerus bangsa. Insyaallah nantinya setelah saya diberi amanah dari Allah untuk membesarkan putra putri penerus bangsa, saya tidak akan lagi mengejar karir saya dengan bekerja di kantor. Siap-siap dari sekarang dengan membekali diri dengan pengalaman berbisnis karena saya tahu saya tidak akan selamanya hidup bersama suami dan dapat mengandalkan penghasilan suami. Wanita harus bisa mandiri tanpa harus menyombongkan diri dimata suami. Mandiri dalam artian mampu menjadi support untuk suami.

Terimakasih atas waktunya :) Let's be a good Mom for your kids...

No comments:

Post a Comment