Pageviews last month

Monday, June 8, 2015

Ingat-Ingat Pesan Mama

Sekali-sekali tulisan nya tentang hal pribadi boleh dooong... Bismillah.. Sekarang saya lagi pengen nulis pesan-pesan mama sebelum akhirnya saya di persunting oleh laki-laki pilihan saya. Tadinya saya sendiri ragu apa saya sanggup menerima segala kelebihan dan kekurangan lelaki yang saya kenal sejak kuliah dulu. 8 tahun masa kami pacaran bukan berarti kami sudah bisa menerima kelebihan dan kekurangan masing-masing. Mungkin banyak hal yang sudah kami ketahui satu sama lain. Kelebihan dan kekurangan nya juga sudah sama-sama tau. Hanya saja untuk menerima dan menyikapinya masih  butuh proses yang tidak sebentar. 8 tahun ternyata belum cukup.
Bahkan orang tua saya sendiri menceritakan bahwa sampai saat ini masih ada kekurangan mereka yang belum bisa diterima. Akan tetapi apakah hal tersebut lantas menjadi alasan untuk mengakhiri suatu hubungan? Ya nggak lahhh. Sering banget kan yaaa saya dengar di TV kalo banyak pasangan yang baru beberapa bulan menikah lalu barfikir untuk mengakhiri hubungan mereka. Amit-amit deh yaaaa jangan sampe dehhh kepikiran yang negatif-negatif gitu.
Point tulisan saya malam hari ini bukan tentang perceraian selebritis. Tapi lebih ke nasehat-nasehat apa saja yang harus diingat dalam menjalankan bahtera rumah tangga. Banyaaaakkkk banget tulisan tentang hal ini di Google (Silahkan di search sendiri kalo ga percaya). Tapi boleh dong saya yang punya Blog ini ikut membahas dan berpendapat sendiri.

Waktu di screening oleh petugas KUA yang notabene mantan tetangga saya dulu, beliau menanyakan kepada saya yang ngakunya tamatan Madrasah, (Yes, I am) "Apakah kewajiban seorang istri?" Lalu saya menjawab : " Menjaga nama baik Suami ". Sang bapak mengangguk-angguk sambil tersenyum. (trilili li li li li li li, *upss malah ngelantur). Iya dong, kalo bukan istri siapa lagi orang yang wajib menjaga nama baik suami nya. Tidak lama kemudian, si Bapak bertanya kepada tunangan saya waktu itu, (sekarang sih  udah mantan tunangan, hehe ) "Menurut saudara, apa kewajiban seorang suami?" Dan diapun menjawab : "Menafkahi istri Lahir Bathin". Lagi-lagi si Bapak tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Salah satu point penting dalam pernikahan dapat kami jawab dengan benar dan kemudian si Bapak menceritakan hal-hal yang lebih detail hinggal hal-hal kecil seperti menyiapkan minum untuk suami di Pagi hari. Banyaaakkkk sekali informasi dan petuah-petuah yang diberikan oleh beliau yang insyaallah akan terus saya ingat. (I'll try my best to keep it in my mind).

1 hal yang tidak saya dengar dari bapak tersebut, disampaikan oleh Mama tersayang. (Mungkin si bapak lupa kali ya). Yaitu : Mengalah bukan berarti kalah, beribadah dan berserah dirilah hanya kepada Allah SWT. Sudah sering sih dengar kalimat mengalah bukan berarti kalah. Sudah sering juga berkoar-koar di FB pake kalimat itu. Tapi ya memang kalimat inilah yang menjadi senjata terbaik dalam berumah tangga. Tidak ada rugi nya mengalah dalam suatu urusan. Apalagi untuk orang yang akan membimbing kita seumur hidup menuju Jannah Nya. Hubungan pernikahan hendaknya tidak dengan melebihkan cinta kita terhadap suami melebihi cinta kita terhadap Allah. Hanya Allah lah Dzat yang pantas kita cintai lebih dari apapun. Akan tetapi, cinta Allah, hanya akan kita dapatkan dengan Ridho orang tua dan ridho suami. Mama bilang, sebenar apapun sikap kita sebagai istri, jika suami tidak ridho, maka tinggalkan, karena sesungguhnya itu lebih baik bagi kita (istri). Kecuali untuk hal-hal yang bertentangan dengan Aqidah.

Ahhh beruntungnya saya memiliki suami yang penyayang. Insyaallah dia akan menjadi imam terbaik bagi saya yang masih memiliki banyak kekurangan. Insyaallah akan menjadi jodoh dunia akhirat. Aamiin.

No comments:

Post a Comment